Belajar Fotografi dan Jogjakarta

30 December 2009 | 33 Comments » | Abid Famasya, in Nggak bohong

Aku nulis catatan ini setelah kurang lebih 8 jam lalu baru pulang dari kota budaya, Djokjakarta barengan rombongan sekolah ayah, SMPN 1 Dongko

Jogjakarta, kota Gudeg, kota Wisata, Kota Wisata, kota eks-Ibukota RI atau apalah sebutannya telah kutinggalkan 8 jam lalu. Banyak yang aku dapakan disana, cara nawar barang biar 60% lebih murah, menigkatkan kewaspadaan waktu hujan dan yang paling berharga : TERNYATA ADA JUGA MALING PAYUNG.

Yak, itu memang benar benar ada. Alkisah ketika sudah naik di tahta Candi Borobudur (yang ternyata berada di Kota Magelang, nggak di Jogja seperti koar-koarnya, CMIIW) aku diminta memfoto ayahku dengan rombongan sekolahnya. Setelah melipat payung dan ditaruh didekat stupa tanpa kepala, mulailah aku bertugas dengan asistenku, Camdig Kodak. Jepret kiri, jepret kanan selesailah amanah ini. Setelah itu kulihat payung tadi, dan ternyata udah raib! Spontan aku berpikir ala detektif.. Pegang kepala, cek sidik jari, cek sepatu, dan periksa foto (barangkali tersangkanya narsis waktu aku bertugas). Tapi seberapa kerasnya aku berpikir sampai kepala berasap, nggak ketemu juga tuh tersangka. Hebat, pasti malingnya sekelas Kaito Kid.. (ketahuan kalo Conan holic, hehe). Ah,, tapi biarlah mungkin emang rezeki tuh maling..

Terlintas di pikiran untuk membuat payung dengan PIN code untuk bisa membukanya,, haha

Pemberhentian selanjutnya adalah Keraton Jogjakarta. Disana ada 1 fakta menarik :  Ternyata Sultan Hamengkubuwono 2 punya 80 anak dari 20 istri! Wah,, njawani banget iki.. Untuk penerus2 selanjutnya sebenarnya terus menyusut, tapi “kecelakaan” kembali terjadi pada waktu pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono 7. Beliau sukses menelurkan 72 putra-putri kerajaan.

Pada pemberhentian (hampir) terakhir, mbak pemandu (sebenarnya sih udah tante-tante, tapi maunya dipanggil mbak. huu… ) mengarahkan ke Jalan Malioboro, yang dulu aku kira jalan yang disponsori merk rokok (Marlboro, red). Yah, namanya cowok,, jadi nggak tau teori menawar yang baik. Kulihat murid-murid ayah menawar dengan gesitnya. Comot sana sini, selesai.

dan pada final destination (sekali lagi, bukan promosi) aku diajak ke toko oleh-oleh yang harganya gila-gilaan. 2 kali lipat yang dijual di Malioboro. Tapi karena dompet udan tipis (memang nggak diisi, red) jadinya coma longak-longok cara buatnya aja.. :-)

Dan inilah hasil kerja dengan sistenku :

Candi yang basah

Meja restoran yang basah

Sang Budha yang masih utuh (juga basah)

Menu makanan yang sebenarnya juga basah

Sebenarnya ada banyak, tapi ukurannya bikin killer..