Aku nulis catatan ini setelah kurang lebih 8 jam lalu baru pulang dari kota budaya, Djokjakarta barengan rombongan sekolah ayah, SMPN 1 Dongko
Jogjakarta, kota Gudeg, kota Wisata, Kota Wisata, kota eks-Ibukota RI atau apalah sebutannya telah kutinggalkan 8 jam lalu. Banyak yang aku dapakan disana, cara nawar barang biar 60% lebih murah, menigkatkan kewaspadaan waktu hujan dan yang paling berharga : TERNYATA ADA JUGA MALING PAYUNG.
Yak, itu memang benar benar ada. Alkisah ketika sudah naik di tahta Candi Borobudur (yang ternyata berada di Kota Magelang, nggak di Jogja seperti koar-koarnya, CMIIW) aku diminta memfoto ayahku dengan rombongan sekolahnya. Setelah melipat payung dan ditaruh didekat stupa tanpa kepala, mulailah aku bertugas dengan asistenku, Camdig Kodak. Jepret kiri, jepret kanan selesailah amanah ini. Setelah itu kulihat payung tadi, dan ternyata udah raib! Spontan aku berpikir ala detektif.. Pegang kepala, cek sidik jari, cek sepatu, dan periksa foto (barangkali tersangkanya narsis waktu aku bertugas). Tapi seberapa kerasnya aku berpikir sampai kepala berasap, nggak ketemu juga tuh tersangka. Hebat, pasti malingnya sekelas Kaito Kid.. (ketahuan kalo Conan holic, hehe). Ah,, tapi biarlah mungkin emang rezeki tuh maling..
Terlintas di pikiran untuk membuat payung dengan PIN code untuk bisa membukanya,, haha Read the rest of this entry »