
Perhatian : tulisan ini tidak bermaksud menyindir pihak-pihak tertentu, terutama para pendidik dan yang organisasi berhubungan dengan bidang keilmuan
Oke, inilah yang tersirat di pikiranku selama beberapa hari ini. Setelah mengikuti serangkauan ulangan yang membosankan. Banyak sekali orang masih belum mengerti bagaimana “belajar itu”. Saat ini berjuta-juta anak Indonesia belajar sedang belajar, entah itu dalam SD, SMP, maupun SMA. Tapi aku yakin, sekitar 90% dari mereka (tepatnya kami) masih meragukan makna belajar itu.
Learning is acquiring new knowledge, behaviors, skills, values, preferences or understanding, and may involve synthesizing different types of information. The ability to learn is possessed by humans, animals and some machines.
Wikipedia
Belajar adalah mencari pengetahuan, ketrampilan, dan pengertian, tulah garis besarnya. Tapi jika kita kembali menuju judul tulisan ini, rasanya ada sesuatu yang kurang “pas”. Ya, kita sebagai pelajar mungkin bersekolah hanya untuk mencari nilai, bukannya mencari pengetahuan baru. Tidak ada bukti yang tampak dalam fakta itu, tapi tentunya sebagai pelajar turut merasakannya.
“Ujian” adalah kata yang menakutkan dimata murid2 sekolah saat ini. Begitu mendengar kata tersebut, maka seorang pelajar akan menyiapkan jurus pamungkasnya : SKS (sistem kebut semalam). Begitu ujian selesai, maka selesailah semuanya, selesai juga hal yang telah kita pelajari semalam lalu.
Finlandia, negara pendidikan
Begitu membaca tulisan dari Alanda Kariza, yang berjudul Ayo Belajar, aku kembali berpikir. Disitu disebutkan bahwa Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) rutin menyelenggarakan tes Programme for International Student Assessment (PISA) yang diikuti oleh 62 negara di dunia. Tes ini menguji kemampuan seorang siswa dalam hal matematika, sains dan membaca. Setiap negara mewakilkan 1000 muridnya sebagai sampel. Jangan kira bahwa Amerika, Jepang, Inggris atau China yang menjadi peringkat pertama. Justru Finlandia-lah yang menjadi peringkat pertama.
Negara yang terletak di dekat Swiss mampu meraih peringkat pertama karena tingkat SDM guru dan muridnya tinggi. Jika di banyak negara Ujian atau Assessment adalah cara untuk menguji keberhasilah belajar, maka di negara ini justru dianggap sebagai “pembunuh” semangat belajar. Sebuah remidial bukannya menunjukkan bahwa murid itu bodoh, tapi justru sebagai hal untuk mencari kebenaran dibalik kesalahan.
Tuomas Siltala, seorang siswa SMA, berpendapat bahwa ia belajar lebih banyak jika mencari sendiri informasi yang dibutuhkan. “Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menulis apa yang dikatakan oleh guru. Di sini, guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan,” ujarnya.
Gap (celah) antara si pintar dan si bodoh di Finlandia juga tidaklah besar. Mereka menyadari bahwa belajar adalah untuk menguji diri. Itu terbukti ketika mereka mendapatkan PR. Sang murid tidaklah harus mengerjakan dengan benar. Mereka hanya berusaha mengerjakannya.
Penyesuaian di Indonesia
Negara Indonesia merupakan negara yang besar. Jika saja SDM yang terdidik di Indonesia setara dengan Finlandia, maka semakin besarlah negara ini. Tapi kita lihat dahulu, murid2 di negara ini masih menginginkan nilai yang tertinggi, ranking yang tinggi dan PR yang selalu benar. Tersirat juga bahwa seorang murid SMP berusaha untuk menjadi ahli Bahasa, Ilmuwan, akuntan yang pintar dan juga seorang sejarawan. Orangtua juga berpikir anak mereka menjadi orang yang pintar jika nilai sains dan matematika mendapat nilai 9.
Sekali lagi, tulisan ini tidak menghina bangsa Indonesia sendiri. Justru saya menginginkan kesetaraan belajar seperti mereka yang telah sukses disana. Aku yakin jika itu terwujud, Indonesia semakin mampu “berbicara” di mata dunia.

hyy
aku belum sempet baca, tapi aku mo ninggalin jejak dulu disini
salam kenal yah
Quote
Sistem belajar kita memang perlu dibenahi. Minimal, proses ini harus menjadi suatu hal yang menyenangkan buat pelaku pendidikan, yaitu pengajar dan murid.
Mungkin, sistem penjurusan sudah harus diterapkan sejak pendidikan menengah. Maksud saya, di tingkat pendidikan dasar, bakat dan kemampuan siswa sudah harus bisa dinilai, sehingga bisa diarahakan sejak pendidikan menengah. Sebab kadangkala, seorang murid cuma bisa menikmati proses belajar pada mata pelajaran yang digemarinya saja.
Ini cuma usul tanpa analisa yang matang. Hehe!
Quote
sistem pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran harus dari sekarang dibenahi secara bertahap agar dapat menghasilkan anak bangsa yang tidak hanya cerdas tetapi juga bisa menghasilkan SDM berikutnya, terus sampai pada tahap berikutnya nanti mampu berinovasi dan membesarkan negeri ini
Quote
maaf baru sempat berkunjung
Quote
pemerintah harus berani merubah sistem pendidikan…seperti yg saya baca di Novel Negeri 5 Menara, saya salut dengan sistem pendidikan yang seperti itu akan memberikan kontribusi yg terbaik bagi bangsa
Quote
Mungkin tiap tempat beda metode yang pas. Kalo di sini gak ada ujian, para siswa makin males belajar. Kaleeee…
Quote
saya setuju pendapat anda, pendidikan di Indonesia sedang menuju kesana, namun sarana pendukung tidak memadai termasuk sumber daya pengajarnya.
Quote
[...] This post was mentioned on Twitter by Planet Trenggalek, Planet Trenggalek. Planet Trenggalek said: Planet Trenggalek What are you learning for?: Perhatian : tulisan ini tidak bermaksud menyin.. http://bit.ly/7oYVDn [...]
Quote
selamat pagi.
tiba tiba saya terdampar di sini.
numpang baca-baca dan berkomen alakadarnya ya.
membicarakan metode pembelajaran anak sekolah ya…
hhmmm….
saya bukan orang yg pandai dalam hal begini,
yang pasti,
mungkin lebih dari 75 persen ilmu yg saya dapat semasa bangku sekolah, sudah menguap dari ingatan.
aahh…
terima kasih dan mohon maaf
Quote
belajar dari diri sendiri adalah yg terbaik sebab begitu kita salah maka kita akan mengerti dengan seyakin-yakinnya
Quote
IMHO,
belajar tidak harus selalu benar, kadang dengan kesalahan sering mendatangkan semangat yang lebih untuk bisa … saat ini yang terjadi semua hanya mengejar kelulusan, rangking atau peringkat. sudah saatnya pemerintah merubah kebijakan, banyak pro dan kontra akan dihapuskannya unas, tapi jika hal itu merupakan sebuah tindakan menuju berkembang kenapa tidak ?
cuma jika unas di hapuskan? tolok ukur keberhasilannya apa ? bingung …..
Quote
blue menyukai postinganmu yg ini
berisi
salam hangat selalu
Quote
kita memang harus banyak belajar tentang bagaimana cara belajar yang baik dari negara2 yang sudah sukses di bidang pendidikan. Saya yakin orang Indonesia sebenarnya tidak kalah dari negara lain, tapi yang perlu terus dibenahi adalah sistem dan kualitas pengajaran di negara ini.
just my opinion
Quote
yahh,kita semua berharap indonesia bsa maju. . it smua trgantung pda gnerasi muda seperti kita2 ini. .
dtnggu kunjungan baliknya. .
Quote
kalo cuma nyatet apa yang dibilang guru, itu namanya metode belajar yang pasif. sesuatu yang dihafalkan pasti lama2 lupa. tapi kalo kita praktek dan ngerti caranya, ga akan lupa.
sama aja kyk waktu kecil kita naik sepeda. sekarang juga masih bisa kan. karena kita tahu caranya dan learning by doing.
learning by doing ini yang masih kurang di indonesia menurut saya
Quote
waaah, saya setuju maz tetang pendapat maz didunia pendidikan iNdonesia………
emang bener sich SKS itu banyak dilakukan………
tapi kalau saya, itu hanya berlaku untuk pelajaran yang menurut saya kuran bermanfaat dimasa depan seperti sejarah, geografi dan lain sebgainya……….
tapi ada 2 hal yang paling saya tidak sukai didunia pendidikan INdonesia yaitu, Cara mengajar guru yang membosandan dan membuat saya ngantuk and satunya adalah prilaku siswa yang mencontek disaat Ujian…….. saya merasa jika sudah ada temen” yang seperti itu rasanya kok nggak adil ya atas apa yan telah kita usahakan dengan keras dikalahkan orang lain secara curang………… Ini terjadi di SMA saya……….
Quote
hidup indonesia raya . . . . . .
Quote
menamBahh manFatt
Quote
thank’s for all…lain kali ganti mampir donk
Quote
ok thanks bro
Quote
:iloveindonesia
Quote