What are you learning for?

9 December 2009 | 21 Comments » | Abid Famasya, in Tulisan formal

Perhatian : tulisan ini tidak bermaksud menyindir pihak-pihak tertentu, terutama para pendidik dan yang organisasi berhubungan dengan bidang keilmuan

Oke, inilah yang tersirat di pikiranku selama beberapa hari ini. Setelah mengikuti serangkauan ulangan yang membosankan. Banyak sekali orang masih belum mengerti bagaimana “belajar itu”. Saat ini berjuta-juta anak Indonesia belajar sedang belajar, entah itu dalam SD, SMP, maupun SMA. Tapi aku yakin, sekitar 90% dari mereka (tepatnya kami) masih meragukan makna belajar itu.

Learning is acquiring new knowledge, behaviors, skills, values, preferences or understanding, and may involve synthesizing different types of information. The ability to learn is possessed by humans, animals and some machines.

Wikipedia

Belajar adalah mencari pengetahuan, ketrampilan, dan pengertian, tulah garis besarnya. Tapi jika kita kembali menuju judul tulisan ini, rasanya ada sesuatu yang kurang “pas”. Ya, kita sebagai pelajar mungkin bersekolah hanya untuk mencari nilai, bukannya mencari pengetahuan baru. Tidak ada bukti yang tampak dalam fakta itu, tapi tentunya sebagai pelajar turut merasakannya.

“Ujian” adalah kata yang menakutkan dimata murid2 sekolah saat ini. Begitu mendengar kata tersebut, maka seorang pelajar akan menyiapkan jurus pamungkasnya : SKS (sistem kebut semalam). Begitu ujian selesai, maka selesailah semuanya, selesai juga hal yang telah kita pelajari semalam lalu.

Finlandia, negara pendidikan

Begitu membaca tulisan dari Alanda Kariza, yang berjudul Ayo Belajar, aku kembali berpikir. Disitu disebutkan bahwa Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) rutin menyelenggarakan tes Programme for International Student Assessment (PISA) yang diikuti oleh 62 negara di dunia. Tes ini menguji kemampuan seorang siswa dalam hal matematika, sains dan membaca. Setiap negara mewakilkan 1000 muridnya sebagai sampel. Jangan kira bahwa Amerika, Jepang, Inggris atau China yang menjadi peringkat pertama. Justru Finlandia-lah yang menjadi peringkat pertama.

Negara yang terletak di dekat Swiss mampu meraih peringkat pertama karena tingkat SDM guru dan muridnya tinggi. Jika di banyak negara Ujian atau Assessment adalah cara untuk menguji keberhasilah belajar, maka di negara ini justru dianggap sebagai “pembunuh” semangat belajar. Sebuah remidial bukannya menunjukkan bahwa murid itu bodoh, tapi justru sebagai hal untuk mencari kebenaran dibalik kesalahan.

Tuomas Siltala, seorang siswa SMA, berpendapat bahwa ia belajar lebih banyak jika mencari sendiri informasi yang dibutuhkan. “Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menulis apa yang dikatakan oleh guru. Di sini, guru tidak mengajar dengan metode ceramah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan,” ujarnya.

Gap (celah) antara si pintar dan si bodoh di Finlandia juga tidaklah besar. Mereka menyadari bahwa belajar adalah untuk menguji diri. Itu terbukti ketika mereka mendapatkan PR. Sang  murid tidaklah harus mengerjakan dengan benar. Mereka hanya berusaha mengerjakannya.

Penyesuaian di Indonesia

Negara Indonesia merupakan negara yang besar. Jika saja SDM yang terdidik di Indonesia setara dengan Finlandia, maka semakin besarlah negara ini. Tapi kita lihat dahulu, murid2 di negara ini masih menginginkan nilai yang tertinggi, ranking yang tinggi dan PR yang selalu benar. Tersirat juga bahwa seorang murid SMP berusaha untuk menjadi ahli Bahasa, Ilmuwan, akuntan yang pintar dan juga seorang sejarawan. Orangtua juga berpikir anak mereka menjadi orang yang pintar jika nilai sains dan matematika mendapat nilai 9.

Sekali lagi, tulisan ini tidak menghina bangsa Indonesia sendiri. Justru saya menginginkan kesetaraan belajar seperti mereka yang telah sukses disana. Aku yakin jika itu terwujud, Indonesia semakin mampu “berbicara” di mata dunia.